Senin, 19 April 2010
Jumat, 16 April 2010
SEMANGAT ITU, MASIH ADA PADA MEREKA
(Catatan dari Lapang, Program Penguatan Kelompok Orang Tua Murid dan Guru di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara)
Oleh : Lia PayMand
Mengantongi banyak Ijazah ternyata tidak menjamin bagi seseorang untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Kenyataan ini dialami oleh Gafarudin, salah seorang anggota Kelompok Orang tua Murid di kota Bau-Bau yang sudah mengenyam pendidikan tinggi tetapi ia merasa tidak mendapatkan banyak manfaat dari jenjang pendidikan formal yang diraihnya.
“Nama saya Gafarudin, pekerjaan saya bertani. Anak saya sudah duduk di bangku SD. Saya Sekolah sampai Perguruan tinggi dan saya mengoleksi 4 lembar ijazah tapi sampai hari ini saya susun rapi di dalam lemari”
Pak Gafarudin bisa dibilang cukup beruntung karena sempat mengenyam Pendidikan Tinggi. Sementara banyak masyarakat lain yang cukup puas hanya bisa menamatkan Sekolah Dasar dan mengubur cita-cita mereka karena alasan tidak ada biaya. Pada umumnya masyarakat yang ada di pinggiran kota (sebut saja Kaum Marginal) yang pekerjaan sehari-harinya bertani, beternak, ojek atau pedagang eceran kebanyakan hanya tamat Sekolah Dasar. Berharap, pengalaman pahit tidak bisa melanjutkan pendidikan tidak akan terjadi pada anak-anak mereka, tapi apa daya biaya pendidikan begitu mahal. Demi menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak, Mereka rela membanting tulang dan menguras keringat.
(Catatan dari Lapang, Program Penguatan Kelompok Orang Tua Murid dan Guru di Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara)
Oleh : Lia PayMand
Mengantongi banyak Ijazah ternyata tidak menjamin bagi seseorang untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Kenyataan ini dialami oleh Gafarudin, salah seorang anggota Kelompok Orang tua Murid di kota Bau-Bau yang sudah mengenyam pendidikan tinggi tetapi ia merasa tidak mendapatkan banyak manfaat dari jenjang pendidikan formal yang diraihnya.
“Nama saya Gafarudin, pekerjaan saya bertani. Anak saya sudah duduk di bangku SD. Saya Sekolah sampai Perguruan tinggi dan saya mengoleksi 4 lembar ijazah tapi sampai hari ini saya susun rapi di dalam lemari”
Pak Gafarudin bisa dibilang cukup beruntung karena sempat mengenyam Pendidikan Tinggi. Sementara banyak masyarakat lain yang cukup puas hanya bisa menamatkan Sekolah Dasar dan mengubur cita-cita mereka karena alasan tidak ada biaya. Pada umumnya masyarakat yang ada di pinggiran kota (sebut saja Kaum Marginal) yang pekerjaan sehari-harinya bertani, beternak, ojek atau pedagang eceran kebanyakan hanya tamat Sekolah Dasar. Berharap, pengalaman pahit tidak bisa melanjutkan pendidikan tidak akan terjadi pada anak-anak mereka, tapi apa daya biaya pendidikan begitu mahal. Demi menafkahi keluarga dan menyekolahkan anak, Mereka rela membanting tulang dan menguras keringat.
Label:
pendidikan
Senin, 05 April 2010
Minggu, 04 April 2010
Jumat, 26 Maret 2010
Rabu, 24 Maret 2010
Diklat Sistem Penganggaran Daerah

Mereka berkumpul di Hotel Alia Raha (MUNA-Sulawesi Tenggara) terdiri dari berbagai elemen ( masyarakat Desa (OR), Pers, NGO dan DPRD) untuk sama-sama belajar mengenai sistem perencanaan dan penganggaran daerah. tak ada lagi perbedaan status, yang ada adalah serius mendengarkan materi dari para narasumber (ICW dan IBC) serta berlatih menganalisa dokumen APBD kabupaten muna tahun 2010.
Selama 3 hari mereka belajar bersama, diseleingi dengan games agar suasana pelatihan tidak membosankan. di hari terakhir, peserta Diklat menyempatkan diri untuk berdialog di radio Getar 09 Raha, 96,2 FM dengan Narasumber Abdullah dahlan dari ICW, La Ode Salama alias Roy Salam dari IBC dan La Ode Amrin Saafi dari kalangan Jurnalis. Tema yang diperbincangkan adalah serba-serbi penganggaran daerah termasuk didalamnya bagimana partisipasi warga dalam proses perencanaan dan penganggaran daerah. Pada akhir sesi mereka berbagi bingkisan dengan sahabat sejati yang sekaligus menutup acara pelatihan. Pada saat berbagi bingkisan mereka menyampaikan sebait puisi motivasi ataupun pesan bijak kepada para sahabat mereka.
Label:
Penganggaran
Selasa, 23 Maret 2010
PHJM Muna

Muna yang terkenal dengan Kota Jati, saat ini memiliki areal hutan jati milik masyarakat diperkirakan mencapai 130.000 Ha. Pendataan yang dilakukan oleh Perkumpulan Swami pada bulan januari dan februari 2009 teridentifikasi seluas 1000 ha yang ada di 8 kecamtan. Tanaman jati ini berumur antara 2 - 15 tahun bahkan beberapa pohon diantaranya sudah mencapai umur 20 tahun.
dari hasil identifikasi tersebut maka dibentuklah sebuah asosiasi petani hutan jati milik yang dikenal dengan ASOSIASI PHJM kabupaten Muna. asosiasi ini bertujuan untuk mensejahterakan anggotanya dan melestarikan lingkungan melalui pengelolaan hutan secara lestari. saat ini PHJM sudah memiliki 5 simpul yang berada di tingkat kecamatan. tugas selanjutnya adalah bagaimana PHJM terus eksis dan mampu menguatkan lembaganya sehingga bisa mewujudkan cita-citanya.
Label:
Kehutanan
Langganan:
Postingan (Atom)




